Loading...

Senin, 24 September 2012

Ca Mamae

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan Kanker telah dikenal oleh para pemikir sebelumnya dimana Hipokrates memberi nama kanker berasal dari bahasa latin yaitu “cancri atau kepiting” karena penyebarannya kesemua arah seperti kaki kepiting dan pada fase lanjut memberikan riwayat tidak dapat disembuhkan. Terminologi secara umum dipakai sekarang adalah tumor maligna atau neoplasma dimana neoplasma sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti pertumbuhan baru atau pembentukan baru. Sel normal dalam proses pembelahan sel dan membagi diri dalam proses yang teratur dengan tujuan yang khas dari perkembangan sel untuk mengganti sel yang rusak atau cedera sedangkan kalau sel itu membentuk jaringan baru disebut tumor atau neoplasma.(long, 1996)
Neoplasma pada masa abnormal terdiri dari sel-sel yang mengalami proliferasi (proses bertambah banyak) bersifat otonom dan tak terkoordinasi, tidak adaptif meskipun rangsang dihilangkan terus tumbuh serta dibedakan atas jinak (benigna) yang sering disebut dengan tumor dan ganas (maligna) yang sering disebut kanker. Sifat neoplasma jinak (tumor) peristiwa lokal/setempat, proliferasi bersifat kohesif, pertumbuhan bersifat sebtrifugal dengan batas nyata, bergerak keluar, menyebabkan desakan jaringan sekitar, tidak menyebar jauh, laju pertumbuhan lambat dan ukuran tetap stabil selama berbulan-bulan/bertahun-tahun sedangkan sifat neoplasma ganas (Kanker) bertumbuh lebih cepat, progresif, tidak kohesif, penyebaran tidak teratur, tidak berkapsul, sukar dipisahkan dengan jaringan sekitar dan menyerbu kedaerah sekitar (infiltrasi), mencari jalan secara destruktif dimana sel neoplasma melepaskan diri dari tumor primer menuju sirkulasi mengakibatkan emboli sel sehingga tersangkut, keluar pembuluh darah berproliferasi menjadi tumor sekunder bersifat metastasis atau pengalihan penyakit dari bagian / alat tubuh satu kealat atau bagian tubuh lainnya yang tidak saling berhubungan yang biasanya bersifat lebih ganas dimana produksi sel-sel yang tidak normal dan tidak mengikuti jaringan yang normal.Salah satu neoplasma ganas yang sering terjadi pada beberapa kasus adalah carcinoma mammae dan jaringan sekitarnya

B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah mengikuti seminar ini mahasiswa Keperawatan A6.1 Universitas Respati yogyakarta dapat memahami tentang penyakit Kanker Payudara dan asuhan keperawatan terhadap klien dengan penyakit Kanker Payudara atau Ca Mamae.

b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian Ca Mamae
2. Mahasiswa mengetahui anatomi dan fisiologi dari Payudara
3. Mahasiswa mengetahui etiologi dari Ca Mamae
4. Mahasiswa mengetahui patofisiologi dari Ca Mamae
5. Mahasiswa mengetahui tanda dan gejala pada Ca Mamae
6. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan pada pasien Ca Mamae
7. Mahasiswa mengetahui pemeriksaan diagnostic pada pasien Ca Mamae
8. Mahasiswa mengetahui pathway pada pasien Ca Mamae
9. Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada pasien Ca Mamae

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar (metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal : 39-40)
Kanker payudara adalah pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas. (http//www.pikiran-rakyat.com.jam 10.00, Minggu Tanggal 29-8-2005, sumber : Harianto, dkk)

B. Anatomi – fisiologi Payudara
Anatomi Payudara
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke aksila. Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.

Fisiologi Payudara
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.

C. Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :
1. Tinggi melebihi 170 cm Wanita yang tingginya 170 cm mempunyai resiko terkena kanker payudara karena pertumbuhan lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahan struktur genetik (DNA) pada sel tubuh yang diantaranya berubah ke arah sel ganas.
2. Masa reproduksi yang relatif panjang.
a. Menarche pada usia muda dan kurang dari usia 10 tahun.
b. Wanita terlambat memasuki menopause (lebih dari usia 60 tahun)
3. Wanita yang belum mempunyai anak
Lebih lama terpapar dengan hormon estrogen relatif lebih lama dibandingkan wanita yang sudah punya anak. Kehamilan dan menyusui
4. Berkaitan erat dengan perubahan sel kelenjar payudara saat menyusui.
5. Wanita gemuk Dengan menurunkan berat badan, level estrogen tubuh akan turun pula.
6. Preparat hormon estrogen Penggunaan preparat selama atau lebih dari 5 tahun.
7. Faktor genetik kemungkinan untuk menderita kanker payudara 2 – 3 x lebih besar pada wanita yang ibunya atau saudara kandungnya menderita kanker payudara. (Erik T, 2005, hal : 43-46)

D. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala kanker payudara antara lain, terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, keluar cairan dari puting, ada perlengketan dan lekukan pada kulit dan terjadinya luka yang tidak sembuh dalam waktu yang lama, rasa tidak enak dan tegang, retraksi putting, pembengkakan lokal.Gejala lain yang ditemukan yaitu konsistensi payudara yang keras dan padat, benjolan tersebut berbatas tegas dengan ukuran kurang dari 5 cm, biasanya dalam stadium ini belum ada penyebaran sel-sel kanker di luar payudara. (Erik T, 2005, hal : 42)

E. Patofisiologi
Kanker payudara bukan satu-satunya penyakit tapi banyak, tergantung pada jaringan payudara yang terkena, ketergantungan estrogennya, dan usia permulaannya. Penyakit payudara ganas sebelum menopause berbeda dari penyakit payudara ganas sesudah masa menopause (postmenopause). Respon dan prognosis penanganannya berbeda dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya.
Beberapa tumor yang dikenal sebagai “estrogen dependent” mengandung reseptor yang mengikat estradiol, suatu tipe ekstrogen, dan pertumbuhannya dirangsang oleh estrogen. Reseptor ini tidak manual pada jarngan payudara normal atau dalam jaringan dengan dysplasia. Kehadiran tumor “Estrogen Receptor Assay (ERA)” pada jaringan lebih tinggi dari kanker-kanker payudara hormone dependent. Kanker-kanker ini memberikan respon terhadap hormone treatment (endocrine chemotherapy, oophorectomy, atau adrenalectomy). (Smeltzer, dkk, 2002, hal : 1589)

F. Pemeriksaan Penunjang
a. Mammagrafi, yaitu pemeriksaan yang dapat melihat struktur internal dari payudara, hal ini mendeteksi secara dini tumor atau kanker.
b. Ultrasonografi, biasanya digunakan untuk membedakan tumor sulit dengan kista.
c. CT. Scan, dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
d. Sistologi biopsi aspirasi jarum halus
e. Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah. (Michael D, dkk, 2005, hal : 15-66)

G. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
- Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu, segeralah pergi ke dokter.
2. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi.
3. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara.
4. Kemudian periksa juga apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya.
5. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan
- Pembedahan
1. Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena).
2. Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral otocpectoralis minor.
3. Mastektomi radikal yang dimodifikasi
Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial
a. Mastektomi radikal
Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya : seluruh isi aksial.
b. Mastektomi radikal yang diperluas
Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.

- Non pembedahan
Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
Kemoterapi
Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.
Terapi hormon dan endokrin
Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi.

H. Pengkajian Keperawatan
Riwayat kesehatan mencakup suatu pengkajian tentang reaksi pasien terhadap diagnosis dan kemampuannya untuk mengatasi situasi tersebut. Pertanyaan yang berhubungan mencakup yang berikut :
 Bagaimana pasien berespon terhadap disgnosis ?
 Mekanisme koping apa yang pasien temukan paling membantu ?
 Dukungan psikologis atau emosional apa yang ia gunakan ?
 Apakah ada pasangan, anggota keluarga, atau teman untuk membantunya dalam membuat pilihan pengobatan ?
 Bagaimana informasi mana yang paling penting yang pasien butuhkan ?
 Apakah pasien mengalami suatu ketidaknyamanan ?

I. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, dignosa keperawatan utama mencakup hal berikut :
Praoperatif
 Kurang pengetahuan tentang kanker payudara dan pilihan pengobatannya
 Takut dan koping tidak efektif berhubungan dengan diagnosis kanker, pengobatannya, dan prognosis
Pascaoperatif
 Nyeri dan ketidaknyamanan
 Kerusakan integritas kulit akibat insisi bedah
 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan mastektomi dan efek samping radiasi dan kemoterapi
 Kurang perawatan diri berhubungan dengan imobilitas parsial lengan atas pada tempat yang di operasi
 Potensial disfungsi seksual yang berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh , perubahan dalam citra diri, dan ketakutan akan reaksi pasangan terhadap kehilangan ini.

J. Rencana Keperawatan
Tujuan utama mencangkup meningkatkan pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya,menurunkan ketakutan preoperative dan pasca operasi, stress operasional, dan anseitas: meredakan nyeri, pemeliharaan integritas kulit; memperbaiki konsep diri;memperbaiki perawatan diri; memperbaiki fungsi seksual, dan tidak terdapatnya komplikasi.




K. Pathway




















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Kasus
Nn. R usia 25 tahun datang ke RS dengan keluhan nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini. Nn. R menjelaskan bahwa sejak 3 bulan yang lalu teraba benjolan kecil pada payudaranya namun sekarang benjolan tersebut semakin membesar yang besarnya kurang dari 5 cm, daerah puting pada payudaranyapun berkerut menyerupai kulit jeruk. Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan fisiknya karena payudaranya yang membengkak. Klien tampak tidak tenang dan selalu menutupi dadanya ketika berbicara dengan perawat. Dokter mendiagnosa Nn. R menderita kanker payudara dan harus segera dioperasi. Nn. R mengatakan cemas dan takut dengan diagnosa dokter tersebut, wajahnya terlihat pucat dan selalu bertanya pada perawat tentang bagaimana operasi tersebut. Klien mengatakan takut apabila payudaranya tidak ada dan takut mati karena penyaitnya ini. Dari hasil pemeriksaan diagnostik, mammografi (+) kanker, Td : 120/70 mmHg, suhu tubuh : 36,5o C, RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt














B. Pengkajian
Pengkajian Keperawatan
Nama Perawat : AR
Tanggal Pengkajian : 20 Mei 2011
Jam Pengkajian : 08.00 WIB.
1. Biodata :
Pasien
Nama : Nn. R
Agama : Islam.
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : Pramugari
Status Pernikahan : Belum menikah.
Alamat : Jln. Melati no 13.
Diagnosa Medis : Ca. Mamae

Penanggung Jawab
Nama : Ny. R
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana
Pekerjaan : Guru
Status Pernikahan : Sudah menikah
Alamat : Jln. Melati no 13.
Hubungan dengan klien : Ibu klien
2. Keluhan utama :
Klien mengeluh nyeri pada payudara sebelah kanan.
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Penyakit Sekarang :
Nn. R usia 25 tahun datang ke RS dengan keluhan keluhan nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini. Nn. R menjelaskan bahwa sejak 3 bulan yang lalu teraba benjolan kecil pada payudaranya namun sekarang benjolan tersebut semakin membesar yang besarnya kurang dari 5 cm, daerah puting pada payudaranyapun berkerut menyerupai kulit jeruk kemudian memutuskan datang ke RS untuk berobat.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien mengatakan pernah di rawat di rumah sakit ini sbelumnya karena Demam berdarah.
c. Riwayat Penyakit Keluarga :
Klien mengatakan tidak ada riwayat tekanan darah tinggi, dan diabetes mellitus tetapi dia mengatakan bahwa saudara ibunya menderita kanker payudara.
GENOGRAM






Keterangan:
: Perempuan.
: Laki – laki.
: Garis keturunan.
: Tinggal dalam satu rumah.
: Hubungan pernikahan.
: klien 50 tahun
Klien berusia 50 tahun, klien tinggal satu rumah dengan istri dan kedua anaknya.
4. Basic Promoting physiology of Health
1. Aktivitas dan latihan
Klien adalah seorang buruh. Sebelumnya sakit klien mampu melakukan pekerjaannya dengan baik, setelah sakit klien mengatakan tidak nyaman karena nyeri hebat yang dirasakan tiba-tiba saat tidak melakukan aktivitas maupun dalam melakukan pekerjaan. Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari klien mengerjakannya sendiri.
2. Tidur dan istirahat
Sebelum klien sakit, klien tidak ada gangguan dalam tidur. Klien tidur selama kurang lebih 7-8 jam/hari. Setelah klien terjadi perubahan dalam pola tidur klien menjadi 6-7 jam.
3. Kenyamanan dan nyeri
Klien mengeluh nyeri
P :
Q :
R :
S :
4. Nutrisi
Klien makan 3 kali sehari, kadang kadang di selingi cemilan, mampu menghabiskan porsi makanan yang disediakan. Setelah sakit klien mengatakan tidak ada perubahan nafsu makan. Klien mampu menghabiskan porsi makanan yang disediakan rumah sakit.
5. Cairan, elektrolit dan asam basa
Sebelum sakit klien mampu minum air sampai 8 gelas/ hari setelah sakit tidak ada perubahan.
6. Oksigenasi
Klien mengatakan mengalami tidak kesulitan saat bernafas .Klien tidak tampak menggunakan otot bantu pernafasan.
7. Eliminasi fekal/bowel
Untuk kebutuhan ADL Bowel klien mandiri. Frekuensi BAB 1 kali sehari, warna feses kuning, konsistensi feses padat. Klien tidak mengalami masalah dalam pemenuhan ADL secara mandiri. BAB klien 100cc/hari
8. Eliminasi urin
Frekuensi eliminasi urin klien 4-5 x per hari. Warna urin klien kuning khas urin. Pasien tidak mengalami gangguan eliminasi urin. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan eliminasi urin dan penyakit ginjal. Klien tidak menggunakan kateter. Untuk pemenuhan kebutuhan ADL bladder klien mandiri. Urin klien 1200cc/24jam
9. Sensori, persepsi dan kognitif.
Pasien tidak mengalami gangguan penglihatan. Pasien tidak mengalami gangguan pendengaran. Pasien tidak mengalami gangguan penciuman. Pasien tidak mengalami gangguan sensasi taktil. Pasien tidak mengalami gangguan pengecapan. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan persepsi dan kognitif, pasien tidak mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan sensori.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Kesadaran klien compos mentis dan GCS klien 15. Untuk pemeriksaan tanda-tanda vital klien menunjukkan Td : 120/70 mmHg, suhu tubuh : 36,5o C, RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt
b. Pemeriksaan kepala klien menunjukkan, kulit kepala klien bersih, tidak ada hematom, tidak ada lesi dan luka, tidak ada benjolan. Rambut klien tampak bersih serta tidak mudah tercabut. Muka klien normal, simetris, tidak ada lesi. Sklera klien tampak putih, tidak ikterik. Palpebra klien normal dan tidak terdapat edema. Untuk pemeriksaan visus tidak dilakukan. Hidung klien normal dan kebersihannya terjaga, tidak terdapat lesi dan tidak ada polip dan tidak ada epistaksis. Pada pemeriksaan mulut klien menunjukkan gigi klien bersih, gigi ada yang tanggal. Telinga klien simetris. Telinga klien berfungsi dengan baik.

c. Pemeriksaan leher klien menunjukkan tidak terdapat pembesaran thyroid, tidak terjadi kaku kunduk, distensi vena jugularis.

d. Pemeriksaan dada menunjukkan bentuk dada klien simetris antara dada kanan dan kiri. Pulmo klien saat dinspeksi menunjukkan pengembangan dada simetris saat inspirasi dan ekspirasi dan menggunakan otot-otot bantu pernafasan. Pada saat dilakukan palpasi pada dada, menunjukkan fremitus taktil kanan teraba dan kiri teraba sama. Perkusi kanan dan kiri sonor. Saat dilakukan auskultasi terdengar suara nafas tambahan whezzing, suara nafas pendek dan dipsnue . Cordis saat dinspeksi: tidak terlihat iktus cordis. Saat dilakukan auskultasi bunyi jantung SI dan SII murni dan terdengar suara jantung S3 tambahan murmur. Untuk palpasi iktus cordis teraba. Pada saat diperkusi batas jantung pada SIC ke 3 sampai SIC ke 6 sinistra terdengar suara redup.

e. Pemeriksaan abdomen klien menunjukan tidak tampak adanya acites pada perut. Saat di palpasi tidak ada pembesaran pada hepar atau pembesaran lien, tidak ada benjolan, tidak ada lesi ataupun hematom. Saat dilakukan perkusi pada abdomen terdengar bunyi tympani. Auskultasi peristaltik klien saat didengarkan 13x/menit.

f. Genetalia klien: tidak ada lesi, tidak ada tumor, kebersihannya terjaga.

g. Rectum klien : tidak ada hemoroid, tidaka ada tumor, tidak ada lesi.

h. Ekstremitas atas kekuatan otot kanan dan kiri 5. ROM yang dilakukan adalah ROM aktif untuk kanan dan kiri. Sedangkan ekstremitas bawah klien kekuatan otot kanan dan kiri 5. ROM yang dilakukan klien adalah ROM aktif kanan dan kiri. ADL klien dilakukan dengan dibantu sebagian denagn nilai 0

6. Psiko sosio budaya Dan Spiritual :
Psikologis :
Klien merasa cemas dengan keadaannya saat ini klien selalu bertanya2 kepada perawat tentang penyakit yang dideritanya
Sosial :
Klien mengatakan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Klien juga mampu berbahasa jawa. Hubungan klien dengan tetangganya terbina dengan baik. Klien dikenal dengan pribadi yang ramah.
Budaya :
Budaya yang diikuti klien adalah budaya jawa. Dan tidak ada budaya yang dirasa merugikan kesehatan klien.
Spiritual :
Aktivitas ibadah sehari-hari sholat. Kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan sholat dan pengajian. Keyakinan pasien tentang peristiwa atau masalah kesehatan yang sekarang sedang alami pasrah dan menyerahkan semuanya kepada tuhan.

7. Pemeriksaan Penunjang :

8. Terapi Medis :












C. Analisa Data

ANALISA DATA
No. Data Fokus Etiologi Problem
1. DS : Klien mengeluh nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini
DO : Dari hasil pemeriksaan diagnostik, mammografi (+) kanker, RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt Biologis Nyeri
2. DS : klien mengatakan cemas dan takut dengan diagnosa dokter, klien takut apabila payudaranya tidak ada dan takut mati karena penyakitnya ini
DO : Klien terlihat pucat dan selalu bertanya pada perawat tentang bagaimana operasi Td : 120/70 mmHg. RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt Ancaman perubahan pada status kesehatan Cemas
3. DS : Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan fisiknya karena payudaranya yang membengkak
DO : Klien tampak tidak tenang dan selalu menutupi dadanya ketika berbicara dengan perawat. Perubahan status kesehatan Gangguan citra diri
D. Diagnosa Prioritas
1. Nyeri b.d agen injuri biologis ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini dari hasil pemeriksaan diagnostik, mammografi (+) kanker, RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt
2. Cemas b.d Ancaman perubahan pada status kesehatan ditandai dengan klien mengatakan cemas dan takut dengan diagnosa dokter, klien takut apabila payudaranya tidak ada dan takut mati karena penyakitnya ini, klien terlihat pucat dan selalu bertanya pada perawat tentang bagaimana operasi, Td : 120/70 mmHg, RR:28x/mnt,HR:108x/mnt
3. Gangguan Citra diri b.d Perubahan status kesehatan ditandai dengan Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan fisiknya karena payudaranya yang membengkak, Klien tampak tidak tenang dan selalu menutupi dadanya ketika berbicara dengan perawat.
SISTEM REPRODUKSI
PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

Nama : Nn. R Ruang : Edelweis
Usia : 25 tahun Diagnosa Medis : Ca Mamae
Rencana Tindakan
No. Diagnosa Keperawatan Tujuan dan kriteria Hasil Intervensi Rasionalisasi Tanda tangan
1. Nyeri b.d agen injuri biologis ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini dari hasil pemeriksaan diagnostik, mammografi (+) kanker, RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan nyeri klien berkurang atau hilang dengan kriteria hasil:
1. Klien mengeluh nyeri berkurang atau hilang
2. Skala nyeri berkurang dari 7 menjadi 1-3
3. Klien tampak tidak meringis
4. Nadi 60-100x/menit, RR 18-24x/menit 1. Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi karakteristik, awitan, frekuensi, kualitas.
2. Kaji TTV
3. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi misalnya relaksasi, distraksi, imajinasi terbimbing.
4. Kaji respon pengalaman nyeri
5. Ciptakan lingkungan yang nyaman
6. Berikan informasi tentang nyeri.
7. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain tentang pemberian obat analgetik. 1. informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi.
2. Untuk mengetahui kondisi klien dan Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya peningkatan nyeri.
3. Untuk memberikan kenyamanan klien dalam mengurangi nyeri
4. Untuk memberikan kenyamanan klien dalam mengurangi nyeri
5. Mengetahui tingkat pengalaman klien terhadap nyeri.
6. Memberikan pengertian pada klien tentang mengapa klien merasa nyeri.
7. Membantu klien mengurangi nyeri dengan teknik farmakologi.
2. Cemas b.d Ancaman perubahan pada status kesehatan ditandai dengan klien mengatakan cemas dan takut dengan diagnosa dokter, klien takut apabila payudaranya tidak ada dan takut mati karena penyakitnya ini, klien terlihat pucat dan selalu bertanya pada perawat tentang bagaimana operasi, Td : 120/70 mmHg, RR:28x/mnt,HR:108x/mnt
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam diharapkan kecemasan klien dan keluarga berkurang atau hilang dengan kriteria hasil:
1. Klien dan keluarga tidak mengatakan kecemasannya
2. Keluarga tidak tampak khawatir dan takut.
3. Klien tidak tampak sedih 1. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan klien
2. Berikan pendidikan kesehatan pada klien.
3. Bantu klien untuk mefokuskan pada situasi pada saat ini
4. Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan ,tenang dan kontak terbatas dengan orang lain
5. Berikan dorongan pada klien untuk mengungkapakan pikiran dan perasaan.
6. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk terapi alternatif. 1. Mengidentifikasikan tingkat kecemasan klien.
2. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit sehingga klien/keluarga dapat mengurangi stres.
3. Mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi stres.
4. Mengurangi hal-hal yang dapat membuat klien/keluarga cemas dengan membuat suasana senyaman dan setenang mungkin.
5. Untuk mengeksternalisasikan pikiran dan perasaan klien.
6. Mengurangi cemas yang diterima klien.
3. Gangguan Citra diri b.d Perubahan status kesehatan ditandai dengan Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan fisiknya karena payudaranya yang membengkak, Klien tampak tidak tenang dan selalu menutupi dadanya ketika berbicara dengan perawat Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan citra diri klien dapat berkurang atau hilang dengan kriteria hasil:
1. Klien bisa menerima keadaan fisiknya saat ini
2. Klien tampak tenang 1. Kaji respon verbal dan non verbal pasien tentang tubuh pasien
2. Ajarkan keluarga tentang pentingnya respon mereka terhadap perubahan tubuh pasien dan penyesuain dikemudian hari
3. Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan martabat klien
4. Bantu klien/ keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan 1. Untuk mengetahui respon klien tentang keadaanya saat ini
2. Mengoptimalkan proses penyesuain diri klien
3. Untuk memberikan rasa nyaman kepada klien dan menjaga martabat klien
4. Untuk mengetahui mekanisme koping klien/keluarga dalam menghadapi msalah ini.


E. Implementasi Keperawatan

SISTEM REPRODUKSI
PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA


Nama : Nn. R Ruang : Edelweis
Usia : 25 tahun Diagnosa Medis : Ca Mamae

No. Dx Tanggal Jam Implementasi Evaluasi Nama/TTD
1. 21 Mei 2011 08.00 wib
08.15 wib
09.00 wib
09.10 wib
09.30 wib 1. Melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi karakteristik, awitan, frekuensi, kualitas.
S :
O :

2. Mengkaji TTV
S :
O :

3. Mengajarkan penggunaan teknik non farmakologi misalnya relaksasi, distraksi, imajinasi terbimbing.
S :
O :

4. Mengkaji respon pengalaman nyeri
S :
O :

5. Mengciptakan lingkungan yang nyaman
S :
O :

6. Memberikan informasi tentang nyeri.
S :
O :

7. Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain tentang pemberian obat analgetik.
S :
O :

2. 21 Mei 2011 1. Mengkaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan klien
S :
O :

2. Memberikan pendidikan kesehatan pada klien.
S :
O :

3. Membantu klien untuk mefokuskan pada situasi pada saat ini
S :
O :

4. Mengurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan ,tenang dan kontak terbatas dengan orang lain
S :
O :

5. Memberikan dorongan pada klien untuk mengungkapakan pikiran dan perasaan.
S :
O :

6. Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk terapi alternatif.
S :
O :

3. 21 Mei 2011 1. Mengkaji respon verbal dan non verbal pasien tentang tubuh pasien
S :
O :

2. Mengajarkan keluarga tentang pentingnya respon mereka terhadap perubahan tubuh pasien dan penyesuain dikemudian hari
S :
O :

3. Memberikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan martabat klien
S :
O :

4. Membantu klien/ keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan
S :
O :





BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
Proses pengkajian yang dilakukan pada klien dengan edema paru dilakukan penulis dengan melakukan wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik langsung kepada klien. Selain itu penulis mendapatkan keterangan dari keluarga dari keluarga, diskusi dengan perawat diruangan dan dokter serta data-data yang ada distatus rawat inap klien. Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, akan tetapi disesuaikan dengan kondisi klien saat dikaji. Pada saat dilakukan pengkajian klien dan keluarga cukup terbuka dan sudah terjalin hubungan trust antara klien dengan penulis sehingga mempermudahkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Hal ini dibuktikan dengan klien dan kluarga mau menjawab pertanyaan dan menerima saran yang diberikan oleh penulis. Data yang didapat pada saat pengkajian pada Nn. R yaitu nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini. Nn. R menjelaskan bahwa sejak 3 bulan yang lalu teraba benjolan kecil pada payudaranya namun sekarang benjolan tersebut semakin membesar yang besarnya kurang dari 5 cm, daerah puting pada payudaranyapun berkerut menyerupai kulit jeruk. Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan fisiknya karena payudaranya yang membengkak. Tidak terdapat perbedaan dikarenakan kasus dibuat berdasarkan teori yang telah ada. Dari data yang terkumpul kemudian dilakukan analisa dan identifikasi masalah yang dihadapi oleh klien yang merupakan data fokus dan selanjutnya dirumuskan diagnosa atau masalah keperawatan.

B. Diagnosa
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada Nn. R adalah Nyeri b.d agen injuri biologis ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada bagian payudara kanan dengan skala nyeri 7, dia juga mengatakan merasa tidak nyaman karena nyeri ini dari hasil pemeriksaan diagnostik, mammografi (+) kanker, RR : 28x/mnt, HR : 108x/mnt. Cemas b.d Ancaman perubahan pada status kesehatan ditandai dengan klien mengatakan cemas dan takut dengan diagnosa dokter, klien takut apabila payudaranya tidak ada dan takut mati karena penyakitnya ini, klien terlihat pucat dan selalu bertanya pada perawat tentang bagaimana operasi, Td : 120/70 mmHg, RR:28x/mnt,HR:108x/mnt. Dan diagnosa yang ketiga adalah Gangguan Citra diri b.d Perubahan status kesehatan ditandai dengan Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan fisiknya karena payudaranya yang membengkak, Klien tampak tidak tenang dan selalu menutupi dadanya ketika berbicara dengan perawat. Setelah diagnosa atau masalah keperawatan ditegakan selanjutnya dilakukan pembuatan rencana tindakan dan kriteria hasil untuk mengatasi masalah keperawatan yang ada pada klien. Kelompok mengambil diagnosa nyeri b.d agen injuri biologis, cemas b.d Ancaman perubahan pada status kesehatan . Setelah diagnosa pertama dan kedua teratasi, maka dilanjutkan mengatasi diagnosa ketiga. Menurut pendapat dari kelompok tidak terdapat kesenjangan antara kasus terkait dengan teori. Karena dalam membuat kasus menyesuaikan dengan menifestasi klinis pada teori. Sehingga apa yang terjadi pada manifestasi klinis dalam teori sama dengan apa yang terjadi pada kasus. Sehingga dalam membuat diagnosa keperawatan tidak jauh berbeda dengan diagnosa keperawatan yang terdapat didalam kasus.

C. Perencanaan
Perencanaan dalam proses keperawatan dimulai setelah data terkumpul, dikelompkkan, dianalisa dan ditetapkan masalah keperawatan. Perencanaan disusun berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan kondisi klien. Setelah masalah ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan pelayanan keperawatan ditetapkan. Tujuan bisa ditetapkan dalam jangka panjang atau jangka pendek, harus jelas, dapat diukur dan realistis. Ditegaskan dalam bentuk perubahan, kriteria hasil sebagai alat ukur pencapaian tujuan yang mengacu pada tujuan yang disusun pada rencana keperawatan.pada penyusunan kriteria hasil penulis menyesuaikan dengan waktu pemberian perawatan yang dilakukan oleh penulis yaitu selama 1 hari. Perencanaan yang dibuat pada Nn. R dengan prioritas nyeri pada dasarnya untuk meminimalkan keluhan yang ada pada klien saat itu.. Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan merupakan kegiatan atau tindakan yang diberikan pada Nn. R dengan menerapkan pengetahuan dan kemampuan klinik yang dimilki oleh perawat berdasarkan ilmu-ilmu keperawatan dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait. Seluruh perencanaan tindakan yang telah dibuat dapat terlaksana dengan baik.

D. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Pada evaluasi terdapat evaluasi formatif yaitu evaluasi yang dinuat segera setelah perawat melakukan tindakan keperawatan yang berisikan respon pasien baik subyektif maupun obyektif dan evaluasi sumatif yaitu evaluasi yang dibuat saat akhir jaga. Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data objektif yang akan menunjukkan apakan tujuan asuhan keperawatan sudah tercapai sepenuhnya, sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan masalah apa yang perlu di kaji, direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali.
Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik rencana keperawatan, menilai, meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui perbandingan asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan standar yang telah di tetapkan lebih dulu. Pada tahap evaluasi yang penulis lakukan pada Nn. R adalah melihat apakah masalah yang telah diatasi sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditetapkan.


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
1. Bagi seorang perawat perlu memperhatikan kondisi klien secara komprehensif, tidak hanya fisik tetapi semua aspek manusia sebagai satu kesatuan yang utuh yang meliputi biopsikososialkultural.
2. Bagi mahasiswa diharapkan dapat makin memperbanyak pengetahuan dari berbagai referensi tentang Asuhan keperawatan Pada pasien dengan penyakit Ca Mamae / Ca Payudara.
3. Bagi dunia keperawatan diharapkan berperan serta dalam peningkatan kualitas perawat dengan cara menyediakan akses yang mudah bagi perawat untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan untuk mengatasi masalah Pada pasien dengan penyakit Edema Paru.


DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, C. Suzanne, Bare, G. Brenda.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8 vol 1I alih bahasa Kuncoro, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin Asih. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar