Loading...

Jumat, 08 Juli 2011

Penyakit Asmatikus

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum Status Asmatikus adalah penyakit asma yang berat disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam –macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor yang mempengaruhi, baik dari faktor ekstrinsik dan instrinsik.
Di dalam Faktor Ekstrinsik memperlihatkan Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara ( antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang, sedangkan pada faktor instrinsik nya memperlihatkan bahwa asma timbul akibat infeksi baik itu virus, bakteri dan jamur, cuaca iritan, bahan kimia, emosional, dan aktifitas yang berlebihan. Penyakit asma ini berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian.
Asma diklasifikasikan sebagai penyakit, intermiten reversibel, obstruktif dari paru-paru. Ini adalah berkembang masalah kesehatan di Amerika Serikat, dengan sekitar 20 juta orang terkena dampak.
Dalam 20 tahun terakhir, jumlah anak dengan asma telah meningkat nyata, dan tidak terkemuka serius penyakit kronis pada anak-anak. Sayangnya, sekitar 75% anak dengan asma terus memiliki masalah kronis di masa dewasa. Jumlah kematian setiap tahunnya dari asma telah meningkat lebih dari 100% sejak tahun 1979 di Amerika Serikat.
Asma adalah penyakit saluran udara yang ditandai oleh peradangan saluran napas dan hyperreactivity (Meningkat tanggap terhadap berbagai pemicu). Hyper-reaktivitas mengarah ke saluran napas karena onset akut kejang otot pada otot polos dari tracheobronchial obstruksi pohon, sehingga mengarah ke lumen menyempit. Selain kejang otot, terdapat pembengkakan mukosa, yang menyebabkan edema. Terakhir, kelenjar lendir peningkatan jumlah, hipertrofi, dan mengeluarkan lendir tebal.
Pada asma, kapasitas total paru (TLC), kapasitas residu fungsional (FRC), dan sisa volume (RV) meningkat, tetapi tanda penyumbatan saluran napas adalah pengurangan rasio paksa expiratory volume dalam 1 detik (FEV1) dan FEV1 dengan kapasitas vital paksa (FVC). Meskipun asma dapat disebabkan oleh infeksi (khususnya virus) dan iritasi dihirup, hal itu sering terjadi
hasil reaksi alergi.
Sebuah alergen (antigen) diperkenalkan untuk tubuh, dan kepekaan seperti antibodi imunoglobulin E (IgE) terbentuk. LgE antibodi mengikat untuk sel mast jaringan dan basofil di mukosa bronkiolus, jaringan paru-paru, dan nasofaring. Antigen-antibodi reaksi melepaskan zat mediator primer seperti histamin dan zat bereaksi lambat dari anaphylaxis (SRS-A) dan lain-lain. Ini menyebabkan mediator kontraksi kelancaran otot dan edema jaringan. Selain itu, sel goblet mengeluarkan lendir tebal ke saluran udara yang menyebabkan obstruksi. Asma intrinsik hasil dari semua penyebab lain kecuali alergi, seperti infeksi (Khususnya virus), menghirup iritasi, dan penyebab lainnya atau etiologi. The parasimpatis sistem saraf menjadi terangsang, yang meningkatkan nada bronchomotor, mengakibatkan bronkokonstriksi.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari makalah ini mahasiswa Keperawatan A6.1 Universitas Respati yogyakarta dapat mengetahui tentang penyakit asma tikus dan asuhan keperawatan terhadap klien dengan penyakit asmatikus.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengetahui definisi penyakit asmatikus
b. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi penyakit asmatikus
c. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala penyakit asmatikus
d. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi penyakit asmatikus
e. Mahasiswa dapat mengetahui pathway penyakit asmatikus
f. Mahasiswa dapat mengetahui Penatalaksanaan dan asuhan keperawatan penyakit asmatikus













BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996).

Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996).

Asthma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Asmatikus adalah Suatu serangan asma yang berat, berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim.
Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian, oleh karena itu :
a. Apabila terjadi serangan, harus ditanggulangi secara tepat dan diutamakan terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran pernapasan.
b. Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor yang merangsang timbulnya serangan (debu, serbuk, makanan tertentu, infeksi saluran napas, stress emosi, obat-obatan tertentu seperti aspirin, dan lain-lain).

Status asmatikus adalah asma yang berat dan persisten yang tidak berespons terhadap terapi konvensional. Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas, penggunaan tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic, dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin dicetuskan oleh hipersensitivitas terhadap penisilin.

Status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medic berupa seranganasam berat kemudian bertambah berat yang refrakter bila serangan 1 – 2 jam pemberian obat untuk serangan asma akut seperti adrenalin subkutan, aminofilin intravena, atau antagonis tidak ada perbaikan atau malah memburuk.

B. Etiologi
1. Faktor Ekstrinsik
Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen – inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk – serbuk dan bulu binatang.
2. Faktor Intrinsik
a. Infeksi :
- virus yang menyebabkan ialah para influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV)
- bakteri, misalnya pertusis dan streptokokkus
- jamur, misalnya aspergillus
3. Cuaca :
perubahan tekanan udara, suhu udara, angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan.
4. Iritan bahan kimia, minyak wangi, asap rokok, polutan udara.
5. Emosional : takut, cemas dan tegang.
6. Aktifitas yang berlebihan, misalnya berlari.

C. MANIFESTASI KLINIK
1. Wheezing
2. Dyspnea dengan lama ekspirasi, penggunaan otot- otot asesori pernapasan
3. Pernapasan cuping hidung
4. Batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit
5. Diaphoresis
6. Sianosis
7. Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan
8. Kecemasan, labil dan penurunan tingkat kesadarn
9. Tidak toleran terhadap aktifitas : makan, bermain, berjalan, bahkan bicara

D. PATHOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. (Tanjung, 2003) Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.
Efek gabungan dari semua faktor - faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. (Tanjung, 2003) Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. (Tanjung, 2003)
a. Pencetus serangan (alergen, emosi/stress, obat-obatan, infeksi)
b. Kontraksi otot polos
c. Edema mukusa
d. Hipersekresi
e. Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi)
f. Hipoventilasi
g. distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru
h. Gangguan difusi gas di alveoli
i. Hipoxemia
j. Hiperkarpia

E. Pathway
Telampir.

F. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati :
a. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
1. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari Kristal eosinopil.
2. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
3. Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
4. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

b. Pemeriksaan darah
1. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
2. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
3. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
4. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

B. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.
d. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e. Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
C. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma.

D. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :
a. perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation.
b. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch block).
c. Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.

E. Scanning paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.

F. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.

G. Komplikasi
Komplikasi yang ditimbulkan oleh status asmatikus adalah
a. Atelaktasis
b. Hipoksemia
c. Pneumothoraks Ventil
d. Emfisema
e. Gagal napas.

H. Penatalaksanaan Medis
Prinsip-prinsip penatalaksanaan status asmatikus adalah :
1. Diagnosis status asmatikus. Faktor penting yang harus diperhatikan : Saatnya serangan Obat-obatan yang telah diberikan (macam obatnya dan dosisnya).
2. Pemberian obat bronchodilator.
3. Penilaian terhadap perbaikan serangan
4. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid
5. Setelah serangan mereda : Cari faktor penyebab modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya.
6. Oksigen dosis 2-4 liter/ menit

I. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian keperawatan
Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien asma adalah sebagai berikut:
a. Riwayat kesehatan yang lalu:
1. Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya.
2. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan.
3. Kaji riwayat pekerjaan pasien.
b. Aktivitas
1. Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas.
2. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan
3. Aktivitas sehari-hari.
4. Tidur dalam posisi duduk tinggi.
C. Pernapasan
1. Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan.
2. Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang ditempat tidur.
3. Menggunakan obat bantu pernapasan, misalnya: meninggikan bahu, melebarkan hidung.
4. Adanya bunyi napas mengi.
5. Adanya batuk berulang.
d. Sirkulasi
1. Adanya peningkatan tekanan darah.
2. Adanya peningkatan frekuensi jantung.
3. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis.
4. Kemerahan atau berkeringat.
e. Integritas ego
1. Ansietas
2. Ketakutan
3. Peka rangsangan
4. Gelisah
f. Asupan nutrisi
1. Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
2. Penurunan berat badan karena anoreksia.

g. Hubungan sosial
1. Keterbatasan mobilitas fisik.
2. Susah bicara atau bicara terbata-bata.
3. Adanya ketergantungan pada orang lain.
h. Seksualitas
1. Penurunan libido

J. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkus, serta sekresi mucus yang kental.
2. Resiko tinggi ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan penignkatan kerja pernapasan, hipoksemia, dan ancaman gagal napas.
3. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
5. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan.
6. Cemas yang berhubugan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas).

7. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.
K. Rencana Intervensi
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan bronkhokontriksi, bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkus, serta sekresi mucus yang kental.
Tujuan dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan napas kembali efektif.
Kriteria evaluasi :
a. Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
b. Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi
c. Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing (-).
d. Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
Rencana Intervensi :
a. Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum
Rasional : Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi.
b. Atur posisi semifowler
Rasional : Meningkatkan ekspansi dada
c. Ajarkan cara batuk efektif
Rasional : Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan keluarnya secret yang melekat di jalan napas.
d. Bantu klien latihan napas dalam
Rasional : Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan secret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan
e. Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500ml/hari kecuali tidak diindikasikan
Rasional : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifkan pembersihan jalan napas.
f. Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada.
Rasional : Fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan secret.
g. Kolaborasi pemberian obat
Bronkodilator golongan B2
1.1. Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25mg, fenoterol HBr 0,1% Solution, orciprenaline sulfur 0,75mg.
Rasional : Pemberian bronkodilator via ihalasi akan langsung menuju area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
1.2. Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg.
Rasional : Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat optimal.
h. Agen mukolitik dan ekspektorant
Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk memudahkan pembersihan.
Agen ekspektoran akan memudahkan secret lepas dari perlengketan ajaln napas.

i. Kortikosteroid.
Rasional : Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronchus.















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. KASUS
Nn.B 18 thn ,Agama Islam,dan nama walinya adalah Tn. Eko. Masuk kerumah sakit pada tanggal 27 april 2011klien masuk melalui poliklinik penyakit dalam , dengan keluhan sesak napas , saat dilakukan pemeriksaan, Nn. B mengeluh sesak pada saat ia bernapas, batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen. Klien juga mengatakan lemah,lemas dan hanya bias berbaring saja karena susah bernapas jika beraktifitas, aktivitas sehari hari klien di bantu oleh keluarganya. Skala nyeri klien adalah 5 . Klien mengatakan 3 tahun yang lalu pernah, ia pernah dirawat di rumah sakit dengan sakit yang sama, dan dokter saat itu mengatakan bahwa dia sakit asma. Nn.B tampak lelah, dan nmengatakan adanya alergi pada debu, dan sangat rentan kena asma pada udara malam.ny. N Menggunakan otot bantu pernapasan, tampak adanya pernapasan cuping hidung. Pada saat pengkajian klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi wheezing. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80, RR : 29 x/mnt , Nadi : 113x/mnt, klien tampak lemah dan letih, wajah klien tampak pucat. Hasil pemeriksaan radiologi paru Nn.B , didapati hiperinflasi pada parunya.
Pengkajian
Nama Perawat : Perawat Dila
Tanggal Pengkajian : 28 April 2011
Ruang Perawatan Dahlia, Rumah Sakit Respati
Jam Pengkajian : 08.00 wib
Tanggal Masuk : 27 April 2011

1. Biodata :
Pasien
Nama : Nn. B
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : -
Status Pernikahan : Belum Menikah
Alamat : Jogjakarta
Diagnosa Medis : Status Asmatikus

Penanggung Jawab
Nama : Tn. Eko
Agama : Islam
Pendidikan : Sarjana Ekonomi
Pekerjaan : Admin di sebuah perusahaan swasta
Status Pernikahan : Menikah
Alamat : Jogjakarta
Hubungan dengan klien : Orang tua

2. Keluhan utama :
Klien mengeluh sesak napas.
3. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Penyakit Sekarang :
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien menderita penyakit asma sejak 3 tahun yang lalu.
4. Basic Promoting physiology of Health
1. Aktivitas dan latihan
Klien sangat lemah sehingga untuk aktivitas yang berat dibantu keluarga dan aktivitas yang dikerjakan pasien hanya sebatas ringan saja, seperti membaca buku, dan menonton TV.
2. Tidur dan istirahat
Untuk istirahat klien mengatakan tidak pernah mengalami masalah, kecuali pada saat penyakitnya kambuh.
3. Kenyamanan dan nyeri
Klien mengatakan nyeri yang dirasakannya mengganggu. Saat dilakukan pengkajian nyeri didapatkan :
P : saat terkena debu dan udara malam
Q : nyeri yang dirasakan klien terus menerus
R : pada dada
S : skala nyeri 5
T : sekitar 15 menit

4. Nutrisi
Klien masuk rumah sakit dengan BB 50 kg, sebelum masuk rumah sakit nafsu makan klien baik. Sejak masuk rumah sakit, klien mengatakan nafsu makannya kurang.
5. Cairan, elektrolit dan asam
Pasien mengatakan dalam sehari minum pasien minum 6 gelas blimbing, dalam 1 gelas ukurannya 200 cc.
Minum 6 gelas sehari = 6 x 200 = 1200 ml
Infus 500 cc/6 jam = 4 x 500 cc = 2000
Air metabolisme 5/kg BB/hari=5x69=345ml
Intake=1200+2000+345=3545ml
Urin = 5 x 300= 1200 ml/hari
IWL =14/kg/hari=15 x 69= 1035ml
IWL = IWL+200 (suhu sekarang - 370C) = 1035 + 200(38 - 37) = 1235
Output=1500+100+1235=2835
BC =Intake-Output
=4545-2835
= + 1710ml
pH =7,28

6. Oksigenasi
Pada saat masuk rumah sakit klien mengalami sesak nafas dan dyspnea / sakit saat bernafas, RR karakteristik pernapasan.
7. Eliminasi fekal/bowel
Klien BAB normal dalam sehari 1X, klien mengatakan jarang sekali menderita diare.
8. Eliminasi urin
Klien BAK dengan mudah dan tidak merasa sakit saat BAK ataupun ada keluhan lain saat BAK.
9. Sensori, persepsi dan kognitif
Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori. Kllien juga tidak menggunakan alat bantu penglihatan dan alat bantu untuk berjalan. Pendengaran klien masih normal dan tidak mengalami gangguan. Penciuman klien masih normal.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum pasien tampak lemah dan wajah tampak pucat. GCSkuanti berapa, kualinya apa??? Pemeriksaan TTV didapatkan hasil : TD : 100/70 mmHg, nadi : 110x/menit, RR : 26x/menit, suhu : 37,7 0C.
b. Pemeriksaan kepala (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi): bentuk kepala klien mesochepal, tidak terdapat lesi, tidak ada hematom, rambut klien bersih tidak rontok. Pemeriksaan muka : muka klien tampak pucat, berkeringat, tidak ada lesi pada muka klien. Sklera klien berwarna putih bersih, terdapat sekret pada mata, konjunctiva anemis. Hidung klien simetris, tidak ada septum deviasi, tidak ada lesi juga tidak ada epistaksis, tidak ada polip. Pada pemeriksaan bibir klien didapatkan bibir klien kering, tidak ada stomatitis. Pada telinga klien bentuknya simetris, telinga klien sedikit kotor.
c. Pemeriksaan leher , leher klien simetris tidak ada penyimpangan, tidak ada pembesaran kelenjar tyhroid, saat dilakukan pengukuran JVP didapatkan nilai 2 cm, tidak ada kaku kuduk, tidak terjadi kesusahan dalam menelan.
d. Pemeriksaan dada dibagi jadi 2 :
a) Pulmonal /paru
- Inpeksi : bentuk tulang dada simetris, tetapi saat bernapas klien terlihat pengembangan dada yang tidak simetris.
- Palpasi : pada saat dilakukan palpasi volal fremitus dapat terasa getaran yang berat .
- Perkusi : suara perkusi yang dapat dihasilkan dari paru-paru klien terdapat pekak yang menunjukkan banyak sekret.
- Auskultasi : saat dilakukan auskultasi terdapat suara whweezing pada pernapasan klien.
b) Coroner / jantung
Auskultasi = Terdapat suara bunyi jantung yaitu S1 dan S2 yang berarti tidak ada gannguan pada jantung.
e. Pemeriksaan abdomen
1. Inspeksi : bentuk abdomen klien simetris, tidak asites ataupun kemerahan
2. Auskultasi : karakter bunyi peristaltiknya normal, frekuensi peristaltic ususnya didapatkan nilai 12x/menit masih dalam rentang normal.
3. Palpasi : saat dilakukan palpasi terdapat terdapat nyeri tekan, karena adanya pengaruh otot pada abdomen.
4. Perkusi : Kajian jenis & lokasi bunyiàtympani (normal pd usus) hypertimpani (kembung), menentukan batas hepar.
f. Pada Genetalia klien warnanya sama dengan warna kulit,tidak terdapat lesi pada vulva, Pada palpasi tidak terdapat nyeri.
g. Pengkajian ekstremitas, klien terdapat edema dan kekuatannya ototnya melemah.

B. Diagnosa Keperawatan
a) Analisa Data
No Data Fokus Etiologi Problem
1. DS : klien mengatakan sesak pada saat ia bernapas, batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen. adanya alergi pada debu.

DO : klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi wheezing. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80, RR : 29 x/mnt , Nadi : 113x/mnt Spasme jalan napas Bersihan jalan napas tidak efektif
2. Ds: Klien mengatakan sesak pada saat bernafas,nyeri pada dada dan abdomen.

Do: Klien tampak lemah,letih, dan wajah tampak pucat.
Hasil pemeriksaan Radiologi menunjukan terjadi Hiperinflasi pada parunya .
Menggunakan otot bantu pernapasan, tampak adanya pernapasan cuping hidung
Pada TTV klien menunjukkan :
TD : 120/80.
RR : 29x/menit.
Nadi : 113x/menit. Penurun energi/kelelahan. Pola nafas tidak efektif.
3. Ds: Klien mengatakan sesak saat bernapas , batuk kering, dan nyeri pada dada dan abdomen.
Klien juga mengatakan lemah, lemas, dan hanya bisa berbaring saja karena susah bernapas saat beraktivitas.
DO : Terlihat TTV klien :
TD: 120/80, RR : 29 x/menit, dan nadi 113 x/menit.
Wajah Klien tampak pucat.
Aktivitas Sehari klien dibantu oleh kelurga Kelemahan Intoleransi Aktivitas

b) Diagnosa Prioritas
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhungan dengan Spasme jalan napas yang ditandai dengan klien mengatakan sesak pada saat ia bernapas, batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen. adanya alergi pada debu dan klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi wheezing. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80, RR : 29 x/mnt , Nadi : 113x/mnt.
2. Pola napas tidak efektif berhungan dengan penurunan energi atau kelelahan ditandai dengan Klien mengatakan sesak pada saat bernafas,nyeri pada dada dan abdomen, Klien tampak lemah,letih, dan wajah tampak pucat ,Hasil pemeriksaan Radiologi menunjukan terjadi Hiperinflasi pada parunya dan Pada TTV klien menunjukkan TD : 120/80, RR : 29x/menit dan Nadi : 113x/menit.
3. Intoleransi aktivitas berhungan dengan kelemahan yang dintai dengan Klien mengatakan sesak saat bernapas , batuk kering, dan nyeri pada dada dan abdomen, Klien juga mengatakan lemah, lemas, dan hanya bisa berbaring saja karena susah bernapas saat beraktivitas dan Terlihat TTV klien TD: 120/80, RR : 29 x/menit, dan nadi 113 x/menit. Wajah Klien yang tampak pucat dan aktivitas- aktivitas Sehari klien dibantu oleh kelurga.



c) Rencana Tindakan Keperawatan
Nama : Nn.B No. CM : 12455
Umur : 18 tahun Tanggal masuk RS : 28 april 2011
Ruang : - Diagnosa : Status Asmatikus

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasionalisasi TTD
1 Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d spasme jalan napas Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pada Tn.A, diharapkan jalan nafas klien menjadi efektik dengan kriteria hasil :
1. Klien merasa nyaman ditandai dengan keluhan sesak nafas dan nyeri dada serta abdomen yang diarasakan klien berkurang.
2. Klien tidak mengeluh sakit saat batuk.
3. TTV klien dalam rentang normal yaitu :
RR : 16 – 24x/menit
Nadi : 60 – 100x/menit
4. bunyi nafas bronkhovesikuler pada daerah bronkus
5. bunyi nafas vesikuler di semua lapang paru 1. Kaji TTV
2. Lakukan pemeriksaan austulkasi
3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator
4. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotik 1. Untuk mengetahui perubahan keadaan klien meliputi nadi, TD, RR, dan suhu
2. Untuk mengetahui adanya bunyi tambahan
3. Untuk merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas, mengi, dan produksi mukosa
4. Untuk membunuh kuman yang terdapat pada sputum ( staphilococcus ) Dila
2 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energi atau kelelahan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien B,selama 2x24 jam. Diharapkan pola nafas dapat kembali normal. Dengan kriteria hasil:
1. Sesak napas klien mulai berkurang
2. Tidak lagi menggunakan otot bantu pernapasan
3. Tidak ada lagi pernapasan cuping hidung
4. TTV dalam batas normal yaitu  TD : 110/70-120/80mmHg, RR : 16-24x/menit, nadi : 60-100x/menit, suhu : 36,5-37,50C 1. Kaji TTV klien.
2. Beritahu klien untuk banyak istirahat
3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen ( 2-4 liter/menit )
4. Ajarkan klien untuk nafas dalam
5. kalaborasi dengan ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator mekanis.
1. Mengidentifikasi keadaan umum klien.
2. Untuk memulihakan kondisi kelelahan klien
3. Agar kebutuhan oksigen klien terpenuhi
4. Agar dapat mengatur pernapasan klien
5. Untuk merencanakn terapi oksigen yg akan diberikan pada klien.
Dila
3 Intoleransi aktivitas b.d kelemahan Setelah dilakukan tindakan kepada Nn. b selama 3 x 24 jam pasien mampu melakukan aktivitas, dengan kriteria hasil :
a. Keadaan umum baik..
b. Klien mampu memenuhi kebetuhan sehari-hari dibantu keluarga dan perawat seminimal mungkin.
c. klien dapat melakukan ROM pasif
1. Observasi KU klien
2. Dekatkan alat- alat yang dibutuhkan klien.
3. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi 1. Dengan mengobservasi keaadaan umum pasien.
2. Dengan mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan pasien dapat melatih pasien untuk tidak bergantung dengan orang lain.
3. Dengan membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akan dapat mengurangi aktivitas klien.
4. Untuk memenuhi kebutuhan klien Dila







d) Catatan Perkembangan
Nama : Nn.B No. CM : 12455
Umur : 18 tahun Tanggal masuk RS : 28 april 2011
Ruang : - Diagnosa : Status Asmatikus
Dx Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi TTD
1 28/4/2011 07.00





07:00






11:00



11:30
1. Mengkaji KU
S : Klien bersedia diukur TTV nya.
O : RR : 26x/menit.
bunyi pernapasan wheezing
2. Melakukan pemeriksaan auskultasi
S : pasien bersedia dilakukan pemeriksaan bunyi napas
O : terdengar suara napas wheezing yang semakin berkurang

3. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator (sanbutamol)
4. berkolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotic amoxiline 500mg
S : klien mengeluh masih terasa sedikit sesak saat bernapas

O : RR : 26x/menit
Bunyi napas wheezing

A : Tujuan belum tercapai.

P : Intevensi 1,2,3,4,dan 5
dilanjutkan

2. 28/04/2011 07:00







07:30






11:00


11:30





12.00
1. mengkaji TTV klien.
S : klien mengatakan masih susah untuk bernapas
O: di dapati TTV klien RR : 29 x/mnt , tampak pernapasan cuping hidung, pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan


2. memberitahu klien untuk banyak istirahat
S : klien mau mendengarkan saran perawat
O: klien tampak dengan sungguh – sungguh melakukan saran perawat
3. mengkolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen ( 2-4 liter/menit )
4. mengajarkan klien untuk nafas dalam
S; klien memperhatikan dengan baik pengajaran perawat
O: klien dapat melakukan dengan benar tapi masih susah untuk bernapas
5. mengkolaborasi dengan ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator mekanis.
03/05/2011

S: klien mengatakan belum merasa nyaman dalam bernafas.

O: klien masih tampak sesak napas

A: tujuan belum tercapai

P: Lanjutkan intervensi
No: 1, 2, 3,dan 4
3. 28/04/2011 07.00


07:30











11:00



11:30






12.30 1. Mengobservasi Keadaan Umum
O : Keadaan umum lemah.
2. Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
S : Klien mengatakan tidak bisa mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
O : Klien terlihat kesulitan mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
3. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
S : Klien mengatakan bahwa klien merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
O : Kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi.
4. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien.
O : Keluarga klien mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien karena keluarga belum terbiasa.
5. Mengkolaborasi dengan ahli gisi dengan dalam pemberian nutrisi
Tanggal 03/ 05 / 2011 Pukul 13.50
S : Klien mengatakan belum dapat melakukan aktivitas sendiri.

O : Keadaan umum lemah
Klien menunjukkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara mandiri.Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik.

A : Masalah teratasi sebagian.

P : Intervensi 1,2,3,dan 4 dilanjutkan.



Dx Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi TTD
1. Mengkaji KU
S : Klien bersedia diukur TTV nya.
O : RR : 24x/menit.
Suara napas bronkovesikuler
2. Melakukan pemeriksaan austulkasi
S : pasien bersedia dilakukan pemeriksaan bunyi napas
O : terdengar suara napas bronkovesikuler
3. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator ( sanbutamol)
4. berkolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotic amoxiline 500mg
S : klien mengatakan sudah tidak terasa sesak saat bernapas

O : RR : 24x/menit
Bunyi napas bronkovesikuler

A : Tujuan tercapai.

P : Intevensi dipertahankan


1. Mengobservasi Keadaan Umum
O : Keadaan Umum Baik.
2. Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
S : Klien mengatakan dapat mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
O : Klien terlihat mampu mengambil alat-alat yang dibutuhkan.
3. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
S : Klien mengatakan bahwa klien merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
O : Kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi.
4. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien.
O : Keluarga klien sangat antusias dalam membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien.
5. Monitor intake nutrisi.
O : Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik.
Tanggal 08/05/ 2011 Pukul 13.50
S : Klien mengatakan sudah dapat melakukan aktivitas sendiri.

O : Keadaan umum baik
Klien mampu melakukan aktivitas secara mandiri. Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik.

A : Masalah teratasi.

P : Intervensi dipertahankan.


BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Status Asmatikus adalah penyakit asma yang berat disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam –macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih – lebihan dari kelenjar – kelenjar di mukosa bronchus.
Pada status asmatikus Serangan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Infeksi, ansietas, penggunaan tranquiliser berlebihan, penyalahgunaan nebulizer, dehidrasi, peningkatan blok adrenergic, dan iritan nonspesifik dapat menunjang episode ini. Epidsode akut mungkin dicetuskan oleh hipersensitivitas terhadap penisilin.

2. Saran
a) Mahasiswa
Untuk mahasiswa calon perawat sebaiknya sungguh-sungguh dalam belajar, supaya dalam praktik nanti, ketika menemukan kasus-kasus gangguan status asma tikus, mahasiswa calon perawat sudah dapat melakukan tindakan keperawatan professional dengan tepat
b) Perawat
Untuk perawat dan tim kesehatan, tingkatkan lagi keprofesionalan dalam melayani pasien.
Tunjukkan karakteristik keperawatan yang baik dengan komunikasi terapeutik dan tindakan yang cepat, tepat,sikap ramah dan lembut, sehingga mengurangi sakitnya klien.
Perawat harus bisa memotifasi klien dan keluarganya dalam proses keperawatan klien, supaya klien dapat semangat dalam kesembuhannya

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner and Suddarth.(2002). Keperawatan Medikal Bedah.EGC Jakarta
2. http://anwarbaharuddin.blogspot.com/2010/11/asuhan-keperawatan-asma-bronchial.html
3. http://kep-2a.blogspot.com/2008/09/askep-asma-bronkial_16.html
4. http://nursingbegin.com/tag/askep-asma/
5. http://zulpatinnasri.blogspot.com/asma-tikus/
6. Karnen G. Baratawidjaya, Samsuridjal. (1994). Pedoman Penatalaksanaan Asma Bronkial. CV Infomedika Jakarta.
7. NANDA
8. NIC-NOC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar